Sunday, September 6, 2026

Apakah Vibe Coding Tidak Cocok dengan Kerja TIM ??

Apakah Vibe Coding Tidak Cocok dengan Kerja Tim?

Pertanyaan ini cukup sering muncul di benak saya.

Sejak hadirnya AI (Artificial Intelligence), saya merasa cara kerja programmer mengalami perubahan yang cukup drastis. Dulu, saya melihat bahwa semakin banyak anggota dalam sebuah tim, semakin besar pula pekerjaan yang bisa dibagi. Setiap programmer dapat mengerjakan bagian yang berbeda sehingga proses pengembangan aplikasi bisa berjalan lebih cepat.

Namun, semenjak AI mulai digunakan secara intensif dalam proses programming, pola tersebut seolah mulai berubah. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa programmer kini bisa dikerjakan oleh lebih sedikit orang, bahkan dalam beberapa kasus bisa dikerjakan oleh satu orang dengan bantuan AI.

Lalu, apakah ini berarti cara kerja dengan AI lebih cocok untuk personal daripada kerja tim?

Dari Pengalaman Pribadi

Saya mempertanyakan hal ini karena pernah memiliki pengalaman mengerjakan sebuah proyek aplikasi bersama seorang teman.

Saya belajar satu hal yang cukup menarik dari pengalaman tersebut.

Teman saya sebenarnya memiliki dasar programming yang cukup baik, tetapi dia sudah terbiasa menggunakan pendekatan vibe coding dalam mengembangkan aplikasi. Hampir seluruh proses pengembangan dalam proyek tersebut sangat bergantung pada AI, termasuk menggunakan berbagai AI coding tools seperti 9router, Hermes, dan tools lainnya.

Sementara itu, saya sendiri masih tergolong baru dalam memahami dan menerapkan vibe coding. Akibatnya, saya cukup kesulitan mengikuti cara berpikir dan pola kerja yang digunakan.

Bukan karena salah satu cara lebih baik atau lebih buruk, tetapi karena cara kami memahami dan membangun kode memang berbeda.

Sebagai contoh:

  • Vibe coding cenderung memungkinkan proses pengembangan berjalan sangat cepat dengan bantuan AI.
  • Saya sendiri masih terbiasa membangun kode secara bertahap dan sederhana terlebih dahulu, kemudian melakukan peningkatan kualitas setelah struktur dasarnya selesai.
  • Vibe coding sangat bergantung pada kemampuan memberikan instruksi, memahami hasil yang diberikan AI, lalu melakukan iterasi dengan cepat.
  • Sementara saya masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami setiap bagian kode sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Perbedaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan dalam satu proyek bersama, dampaknya bisa cukup besar.

Saya harus memahami kode yang dihasilkan AI, sementara teman saya sudah terbiasa dengan pola tersebut. Akhirnya, bukan hanya kode yang harus saya pahami, tetapi juga cara berpikir di balik proses coding menggunakan AI.

Apakah Kita Harus Mengikuti Cara Kerja AI?

Dari pengalaman tersebut, saya kemudian menyadari bahwa mungkin saya memang harus mulai belajar mengikuti perubahan cara kerja ini.

Walaupun secara pribadi saya belum sepenuhnya bisa menerima pola tersebut, saya merasa tetap perlu mencobanya.

AI memang memberikan kecepatan yang luar biasa dalam proses development. Sesuatu yang sebelumnya mungkin membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari, sekarang dapat dibuat jauh lebih cepat dengan bantuan AI.

Tetapi di sisi lain, saya mulai melihat adanya tantangan ketika pola kerja tersebut diterapkan dalam sebuah tim.

Setiap programmer memiliki kemampuan, pengalaman, kebiasaan, dan cara memahami kode yang berbeda. Ketika satu orang dalam tim sudah sangat terbiasa dengan vibe coding, sementara anggota lainnya masih menggunakan pendekatan programming konvensional, bisa muncul perbedaan cara berpikir dan cara membaca kode.

Dan menurut saya, inilah bagian yang menarik untuk dibahas.

Apakah Vibe Coding Memang Tidak Cocok untuk Tim?

Dari pengalaman pribadi saya, saya mulai berpikir bahwa vibe coding saat ini terasa lebih mudah diterapkan untuk pekerjaan personal dibandingkan pekerjaan tim.

Bukan berarti vibe coding tidak bisa digunakan dalam tim.

Masalahnya mungkin lebih kepada bagaimana tim tersebut menyamakan cara kerja.

Ketika semua anggota tim memiliki pemahaman yang sama tentang penggunaan AI, standar coding, struktur proyek, dokumentasi, dan cara melakukan review terhadap kode yang dihasilkan AI, tentu vibe coding juga bisa menjadi sangat powerful untuk kerja tim.

Namun, jika hanya satu atau dua orang yang menggunakan AI secara intensif sementara anggota lainnya belum terbiasa, maka kecepatan yang diberikan AI justru bisa menciptakan masalah baru.

Kode mungkin bisa dibuat lebih cepat, tetapi belum tentu semua anggota tim bisa memahami, memelihara, dan mengembangkan kode tersebut dengan kecepatan yang sama.

Dan mungkin, di sinilah tantangan terbesar dalam era AI programming.

Bukan lagi hanya tentang seberapa cepat kita bisa membuat kode, tetapi seberapa cepat seluruh tim bisa memahami kode yang dibuat dengan bantuan AI.

Kesimpulan

Pengalaman ini membuat saya belajar bahwa AI memang mengubah cara programmer bekerja.

Dulu, peningkatan jumlah programmer mungkin berarti lebih banyak pekerjaan yang bisa dibagi. Sekarang, dengan bantuan AI, satu programmer bisa memiliki kemampuan produksi yang jauh lebih besar.

Tetapi peningkatan produktivitas individu tidak selalu berarti kolaborasi tim menjadi lebih mudah.

Mungkin ke depannya kita bukan hanya perlu belajar programming, tetapi juga perlu belajar bagaimana bekerja bersama programmer lain yang memiliki cara kerja berbasis AI.

Jadi, apakah vibe coding tidak cocok dengan kerja tim?

Menurut saya, bukan tidak cocok. Tetapi cara kerja tim di era AI memang perlu berubah.

Dan tulisan ini hanyalah pendapat serta pengalaman pribadi saya setelah mencoba bekerja dalam sebuah proyek dengan pendekatan yang cukup berbeda antara programming konvensional dan vibe coding.

Mungkin pengalaman programmer lain justru berbeda.

Karena itu, saya juga tertarik mendengar pengalaman teman-teman:

Apakah menurut kalian vibe coding membuat kerja tim menjadi lebih mudah, atau justru lebih sulit?


No comments:

Post a Comment

Menjadi Programmer Bukan Hanya Tentang Coding, Tapi Tentang Mempermudah Kehidupan

Semenjak menjadi seorang programmer, ada satu cara pandang yang perlahan berubah dalam diri saya. Saya mulai berpikir bahwa ilmu pemrograman...